Wayang, Seni yang menyampaikan pesan moral tentang hidup dan kehidupan anak manusia dalam menggapai tujuan

Ki Bagus Mudo Carito
Wonosalam (depoKini) - Wayang, adalah salah satu kesenian tradisional bangsa Indonesia yang merakyat dan amat sangat di gandrungi oleh sebahagian besar masyarakat, utamanya di pedesaan. 

Wayang adalah kesenian rakyat, yang merupakan karya agung bangsa Indonesia, yang awalnya Sunan Giri membuat selembar lukisan tokoh tokoh dalam pewayangan, kemudian di sempurnakan oleh Sunan Kalijogo. Dalam penyempurnaannya tersebut Sunan Kalijogo merubah sudut pandang wajah pada tokoh pewayangan yang semula menghadap muka, dirubah menyamping, demikian yang dituturkan oleh Ki Bagus Mudo Carito, dalang yang di jumpai awak media di pamoksaan di Raden Damarwulan, desa Wonosalam, Jombang, Jawa Timur.
Dirinya juga mengatakan bahwa lakon atau kisah dalam pewayangan, di adopsi dari kitab Mahabarata karangan Resi Wiyasa dan kitab Ramayana karangan Resi Welmikie, kedua pencipta lelakon dalam pewayangan tersebut berasal dari india,  dan keduanya pun masuk dalam bagian kisah lelakon pewayangan pada karyanya masing masing, imbuh bagus bersemangat. 

Dalam perjalanannya kemudian, lelakon dalam kisah pewayangan baik dikisah  Mahabarata maupun Ramayana dalam versi indonesia mengalami perubahan yang amat mendasar, semisal dengan di masukkannya tokoh punakawan, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.  Perubahan tersebut di lakukan oleh Sunan Kalijogo.
"dalam pementasan wayang, iringan aransemen gamelan pun berbeda beda, antara solo, jogja, trowulan dan Sidoarjo serta juga di beberapa daerah lain di Indonesia" papar Dalang yang sudah 33 tahun mendalang ini.

Lebih jauh,  Ki Bagus Mudo Carito menjelaskan terkait kisah lelakon dalam pewayangan yang menggambarkan kehidupan manusia, yang bersifat universal, yang tentunya termasuk gambaran tatanan kehidupan masyarakat bangsa indonesia, dari mulai kalangan petinggi hingga kalangan kawulalit. Tatanan kehidupan manusia di maksud adalah "Harta, Tahta, Wanita" atau dalam literasi jawa di kenal dengan "sadumuk bathuk" maknanya adalah perempuan dalam konteks keindahan dan "sanyari bumi" yang maknanya adalah kekayaan dan kekuasaan.

Tatanan Harta, Tahta, Wanita merupakan tiga hal yang amat sangat erat terkait dalam  perilaku hidup dan kehidupan anak manusia,  yang secara gamblang di wujudkan dalam pentas seni wayang. 

Kisah lelakon dalam pementasan wayang sarat dengan pesan moral terkait pencapaian dua hal "sadumuk bathuk" dan "sanyari bumi" yang acapkali untuk meraihnya, mengabaikan harkat derajat kemanusian dan tak jarang hingga terjadi pertumpahan darah.
Pungkas Ki Bagus menutup percakapan. (GDP)