Kini di Mata Dunia Langit Indonesia Semakin Aman

Jakarta (depoKini) – Pujian sedang menggelayuti dunia penerbangan Indonesia, Yang menuji adalah lembaga internasional ternama yang tak diragukan lagi dalam memonitor dunia penerbangan: ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional). Menurut ICAO, faktor keselamatan penerbangan RI dari hasil On Site Visit ICAO Coordinated Validation Mission (ICVM) meraih angka 81,15 persen.

Hasil ini langsung ditanggapi Direktur Jendral Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso dengan mengatakan bahwa kini tingkat keselamatan penerbangan Indonesia menjadi yang nomor dua di ASEAN. “Dengan ini maka kita jadi yang nomor dua di ASEAN, di atas kita masih ada Singapura. Tapi kan kita punya kompleksitas yang berbeda dengan Singapura,” tutur Agus kepada pers (21/11).

Marsma (Purn) Juwono Koelbion, Vice President Indonesia Aviation and Aerospace Watch juga memuji prestasi tersebut. “Keberhasilan ini menunjukkan kinerja Penerbangan Indonesia diakui dengan sangat baik oleh dunia Internasional. Terutama dalam hal implementasi aturan-aturan keselamatan penerbangan Internasional yang tercantum dalam Annex 1 s/d 19 ICAO.

Menurut Marsekal Bintang Satu ini, pada 10 hingga18 Oktober 2017 lalu ICAO melakukan Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) atau Audit Pengawasan Keselamatan Penerbangan di Indonesia. Audit dilakukan secara langsung (on site) melalui proses ICVM (ICAO Coordinated Validation Mission) setelah dilakukan audit dokumen (off site) pada September 2017.

Ada delapanarea yang menjadi fokus ICVM dari ICAO, yaitu Legislation (LEG), Organization (ORG), Personnel Licensing (PEL), Airworthiness (AIR) , Operations (OPS), Air Navigation (ANS), Aircraft Investigation (AIG) dan Aerodromes (AGA).

Ditjen Perhubungan Udara dari awal 2017 lalu hingga saat ini pada tahap off site, hingga 10 September lalu sudah berhasil menjawab 417 dari 421 (hampir 100 persen) temuan atau finding Protocol Questions (PQs). Hasilnya telah dikirimkan oleh NCMC (National Continous Monitoring Coordinator) pada ICAO HQ melalui OLF (Online Frame Work) CMA.

“Capaian 81 persen itu diraih melalui penguasaan technical dan managerial leadership dengan cara mengajak semua stakeholder yang terlibat dalam penerbangan menyadari pentingnya keselamatan melalui pemenuhan aturan yang telah disiapkan secara konsisten,” sambung Agus.

Untuk diketahui ICAO telah beberapa kali melakukan audit USOAP pada Indonesia dengan hasil kurang meyakinkan. Pada 2007, hasil audit ICAO hanya Compliance 54 persen. Kemudian di 2014, hasil Audit ICAO justru turun menjadi Compliance 45 persen. Dan pada 2016 hasilnya naik sedikit menjadi Compliance 51 persen (offsite Validation). Skor compliance ini masih di bawah rata-rata dunia dengan passing grade 63 persen.

Apapun, fakta menunjukkan bahwa pihak Indonesia telah melakukan berbagai perbaikan. Berbagai langkah koreksi dan perbaikan segera dilakukan dengan kerja keras dan kerjasama yang apik antara regulator, operator dan segenap pemangku kepentingan penerbangan di Indonesia. .

“Untuk mempertahankan compliance yang telah dicapai ini regulator dan operator harus senantiasa menjaga dan selalu memenuhi ketentuan yg berlaku. Dan kepada operator maskapai penerbangan duminta agar selalu berpegang teguh pada ketentuan yang telah disetujui dan selalu disiplin,” pesan Juwono (ab).
Foto: Istimewa